Gambar Artikel
Pernikahan

Tahapan Pernikahan Adat Banjar yang Perlu Diketahui

2026-07-14

Pernikahan adat Banjar merupakan salah satu tradisi budaya yang masih lestari di Kalimantan Selatan. Bagi masyarakat Banjar, pernikahan bukan sekadar prosesi menyatukan dua insan, tetapi juga menjadi ikatan antara dua keluarga besar yang dibangun atas dasar adat istiadat, nilai keislaman, serta semangat kebersamaan. Oleh karena itu, setiap tahapan dalam pernikahan memiliki aturan, tata krama, dan makna filosofis yang diwariskan secara turun-temurun.

Meskipun pada masa kini beberapa prosesi telah mengalami penyesuaian agar lebih praktis, tahapan utama dalam pernikahan adat Banjar masih tetap dipertahankan. Berikut adalah tahapan-tahapan pernikahan adat Banjar yang perlu diketahui.

1. Basasuluh (Mencari Informasi tentang Calon Pasangan)

Tahapan pertama dalam tradisi pernikahan adat Banjar dikenal dengan basasuluh. Pada tahap ini, keluarga pihak laki-laki mencari informasi mengenai calon mempelai perempuan secara santun dan penuh kehati-hatian.

Informasi yang dicari tidak hanya mengenai status calon mempelai, tetapi juga latar belakang keluarga, akhlak, pendidikan, serta kesiapan untuk membangun rumah tangga. Tujuan dari basasuluh adalah memastikan bahwa calon pasangan sesuai dengan harapan kedua keluarga dan belum terikat dengan pihak lain.

Tradisi ini mencerminkan pentingnya kehati-hatian dan penghormatan sebelum melangkah ke jenjang yang lebih serius.

2. Badatang (Menyampaikan Niat Melamar)

Setelah memperoleh kepastian melalui basasuluh, keluarga calon mempelai pria melakukan badatang, yaitu kunjungan resmi ke rumah keluarga calon mempelai perempuan.

Dalam pertemuan ini, pihak laki-laki menyampaikan maksud untuk menjalin hubungan yang lebih serius. Suasana berlangsung penuh kesopanan dan kekeluargaan. Kedua keluarga mulai saling mengenal serta membuka komunikasi mengenai rencana pernikahan.

Badatang menjadi langkah awal dalam membangun hubungan baik antara dua keluarga besar.

3. Lamaran dan Musyawarah Keluarga

Apabila kedua belah pihak memberikan persetujuan, dilaksanakan acara lamaran secara resmi. Pada tahap ini, keluarga calon mempelai pria datang membawa berbagai hantaran sebagai simbol kesungguhan dan penghormatan kepada keluarga calon mempelai perempuan.

Selain penyampaian lamaran, acara ini juga menjadi forum musyawarah. Berbagai hal dibahas bersama, antara lain:

  • Kesediaan menerima lamaran.

  • Penentuan waktu akad nikah dan resepsi.

  • Mahar atau maskawin.

  • Hantaran yang akan diberikan.

  • Pembagian tanggung jawab dalam pelaksanaan acara.

Keputusan diambil melalui mufakat sehingga semua pihak merasa dihargai dan memperoleh kesepakatan bersama.

4. Baantar Jujuran

Salah satu tradisi yang cukup dikenal dalam adat Banjar adalah baantar jujuran. Jujuran merupakan pemberian dari pihak calon mempelai pria kepada pihak calon mempelai perempuan sesuai kesepakatan kedua keluarga.

Jujuran berbeda dengan mahar. Mahar merupakan syarat sah pernikahan menurut syariat Islam, sedangkan jujuran adalah bagian dari adat yang biasanya digunakan untuk membantu kebutuhan penyelenggaraan pernikahan atau sebagai bentuk penghargaan kepada pihak perempuan.

Besarnya jujuran ditentukan melalui musyawarah dan disesuaikan dengan kemampuan keluarga tanpa menghilangkan semangat saling menghormati.

5. Batimung

Menjelang hari pernikahan, calon pengantin perempuan biasanya menjalani prosesi batimung. Tradisi ini berupa mandi uap menggunakan ramuan rempah-rempah dan dedaunan yang menghasilkan aroma harum.

Batimung bertujuan untuk membersihkan tubuh, menyegarkan kulit, serta memberikan rasa rileks sebelum memasuki hari pernikahan. Selain manfaat bagi kesehatan, tradisi ini juga melambangkan penyucian diri sebagai persiapan memasuki kehidupan baru.

Saat ini, beberapa keluarga tetap mempertahankan batimung sebagai bagian dari pelestarian budaya Banjar.

6. Bapapai

Setelah batimung, calon pengantin perempuan biasanya menjalani prosesi bapapai, yaitu perawatan kecantikan tradisional dengan menggunakan berbagai bahan alami.

Prosesi ini bertujuan mempercantik penampilan sekaligus menjadi simbol harapan agar pengantin tampil anggun, sehat, dan memancarkan kebahagiaan pada hari pernikahan.

Selain aspek estetika, bapapai juga memiliki makna bahwa calon mempelai telah mempersiapkan diri secara lahir untuk memasuki kehidupan rumah tangga.

7. Akad Nikah

Akad nikah merupakan inti dari seluruh rangkaian pernikahan adat Banjar. Prosesi ini dilaksanakan sesuai syariat Islam dengan menghadirkan wali nikah, penghulu, saksi, dan keluarga dari kedua mempelai.

Dalam akad nikah, calon mempelai pria mengucapkan ijab kabul sebagai bentuk ikatan suci yang menjadikan pasangan tersebut sah sebagai suami istri.

Setelah akad selesai, biasanya dilanjutkan dengan doa bersama sebagai ungkapan syukur dan permohonan agar rumah tangga yang dibangun senantiasa mendapat keberkahan.

8. Resepsi Pernikahan

Tahapan berikutnya adalah resepsi atau walimah. Acara ini menjadi bentuk rasa syukur sekaligus kesempatan untuk berbagi kebahagiaan dengan keluarga, sahabat, tetangga, dan masyarakat.

Pada resepsi adat Banjar, pengantin mengenakan busana adat yang megah dengan berbagai aksesori khas. Para tamu disuguhi aneka hidangan tradisional serta disambut dalam suasana penuh kehangatan dan kekeluargaan.

Resepsi juga menjadi sarana mempererat hubungan sosial antarkeluarga dan masyarakat sekitar.

Nilai-Nilai yang Terkandung dalam Pernikahan Adat Banjar

Setiap tahapan pernikahan adat Banjar mengandung nilai budaya yang masih relevan hingga sekarang, antara lain:

  • Musyawarah dan mufakat, sebagai dasar pengambilan keputusan bersama.

  • Penghormatan kepada orang tua dan sesepuh, yang memiliki peran penting dalam setiap proses.

  • Gotong royong, melalui keterlibatan keluarga dan masyarakat dalam mempersiapkan acara.

  • Kesopanan dan etika, yang tercermin dalam tata cara berkomunikasi antara kedua keluarga.

  • Nilai religius, karena seluruh prosesi berpuncak pada akad nikah yang dilaksanakan sesuai syariat Islam.

Nilai-nilai tersebut menjadi landasan utama dalam membangun kehidupan rumah tangga yang harmonis dan penuh tanggung jawab.

Pelestarian Tradisi di Era Modern

Saat ini, banyak keluarga Banjar yang memadukan konsep pernikahan modern dengan unsur-unsur adat. Beberapa prosesi disederhanakan agar lebih efisien, namun tahapan penting seperti basasuluh, lamaran, baantar jujuran, akad nikah, dan penggunaan busana adat masih sering dipertahankan.

Pelestarian tradisi ini menjadi bentuk penghormatan terhadap warisan budaya sekaligus upaya memperkenalkan kekayaan adat Banjar kepada generasi muda.

Kesimpulan

Tahapan pernikahan adat Banjar menggambarkan perjalanan menuju kehidupan rumah tangga yang dibangun melalui proses penuh makna. Mulai dari basasuluh, badatang, lamaran, baantar jujuran, batimung, bapapai, hingga akad nikah dan resepsi, setiap prosesi mengajarkan pentingnya musyawarah, penghormatan kepada keluarga, gotong royong, dan nilai-nilai keislaman.